Halaman

Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Februari 2013

Bunga Bisa "Bicara" dengan Listrik

Fakta baru yang ditemukan peneliti di University of Bristol mengungkapkan bahwa bunga terhubung dengan polinatornya tidak hanya melalui warna, bentuk, pola, dan wanginya. Bunga juga mampu "bicara" dengan polinatornya menggunakan energi listrik potensial.
Fakta ini terungkap dari hasil eksperimen yang dilakukan Daniel Robert, professor School of Biological Science, University of Bristol. Robert dan timnya menanam bunga petunia di daerah yang dilalui lebah pencari makan, kemudian mempelajari interaksi antara keduanya.
Robert menjelaskan, lebah memiliki muatan positif setelah terbang untuk beberapa waktu. Tumbukan lebah dengan molekul bermuatan di udara membuatnya kehilangan elektron. Bunga secara elektrik terhubung dengan tanah, mengalirkan listrik sangat lambat dan cenderung bermuatan negatif.
Peneliti mengamati lebah mendarat pada sebuah bunga. Interaksi lebah dan bunga membentuk medan listrik dan keduanya saling bertukar muatan lisrik. “Lebah dapat merasakan induksi gaya listrik,” kata Robert.
“Lebah dikenal dengan keajegannya, sekali mereka mendapat makanan dari satu jenis bunga. Sekali mereka mencari makan, mereka cenderung terus datang ke satu macam bunga itu hingga merasa apa yang didapatkan tak sebanding lagi," kata Robert.
Robert juga mengatakan, binga juga secara aktif berkomunikasi, memberitahukan pada lebah bahwa pasokan makanan yang dibutuhkan akan segera tersedia. “Ini adalah sebuah interaksi yang dinamis,” jelas Robert seperti dikutip Discovery, Rabu (20/2/2013).
Hasil penelitian ini dianggap menarik oleh Thomas Seeley, Kepala Departemen Neurobiologi dan Perilaku Cornell University. Penelitian ini membuka wawasan soal sistem indera lebah yang tak diduga eksis sebelumnya.
Masih diperlukan banyak penelitian untuk menggali lebih dalam mengenai cara ‘komunikasi’ yang dilakukan oleh bunga terhadap makhluk hidup lain. Sangat mungkin terjadi perubahan medan listrik ketika bunga berinteraksi dengan manusia atau bahkan hewan lainnya seperti burung.

Sumber

Jumat, 28 Desember 2012

Tengkorak "Alien" Ditemukan di Meksiko


Tengkorak dengan bentuk wajah aneh menyerupai alien ditemukan di situs El Cemeterio, Meksiko. Warga desa Onavas, menemukan tengkorak pada tahun 1999 di dalam sebuah kuburan yang berusia 1.000 tahun ketika sedang membangun saluran irigasi.
Ini merupakan permakaman pra-Hispanik yang pertama kali ditemukan di Meksiko. Situs El Cemeterio sendiri berisi sisa-sisa dari 25 penguburan manusia. 13 di antaranya mengalami apa yang dinamakan deformasi tengkorak (cacat tengkorak), di mana bentuknya memanjang dan meruncing di bagian belakang kepala, dan lima buah gigi telah dimutilasi.
Peneliti menyimpulkan, meski tengkorak tersebut menyerupai alien, namun sebenarnya itu merupakan tengkorak manusia yang mengalami praktek deformasi. Deformasi tengkorak anak-anak saat mereka tumbuh adalah hal yang umum di Amerika Tengah.
Gigi dimutilasi seperti pengasahan gigi menjadi bentuk yang aneh. Sementara deformasi pada tengkorak mereka mendistorsi pertumbuhan normal tengkorak. Salah satu caranya dengan menggunakan kain untuk mengikat papan kayu terhadap kepala mereka.
"Deformasi tengkorak digunakan oleh berbagai masyarakat dengan berbagai tujuan berbeda. Sebagai praktik ritual, alat untuk membedakan status dalam suatu kelompok atau untuk membedakan antara kelompok-kelompok sosial," kata peneliti Cristina García Moreno, seorang arkeolog di Arizona State University.
Namun, alasan mengapa orang-orang di El Cemeterio melakukan praktek deformasi tengkorak, masih belum diketahui persis tujuannya. Sejumlah tengkorak lainnya ditemukan dengan anting-anting, cincin hidung, gelang, liontin, dan kalung terbuat dari kulit kerang dan siput dari Teluk California.
Satu orang dimakamkan dengan cangkang kura-kura pada bagian dada. Alasan mengapa beberapa orang tersebut  dikuburkan berbagai aksesoris sementara yang lain tidak, juga masih menjadi misteri.
Para pakar hingga kini terus melakukan penelitian untuk menentukan total ukuran permakaman dan berharap menemukan lebih banyak lagi kuburan. Sehingga dapat memberikan informasi mengenai kebiasaan permakaman masyarakat setempat.
"Dengan informasi baru, kami berharap dapat menentukan apakah ada interaksi antara masyarakat dan Mesoamerika dan bagaimana dan kapan hal tersebut terjadi," kata García.
García dan rekan-rekannya menyelesaikan penelitian terhadap sisa-sisa kerangka pada bulan November dan berencana menyerahkan penelitian mereka ke salah satu jurnal American Antiquity atau jurnal Antiquity Amerika Latin.